0822 9191 2526
7:15-16:00 Wita / Sabtu-Minggu Libur
Hubungi Kami

0822 9191 2526

Jam Kerja

7.15 - 16.00 Wita

Menjadi Teladan Yang Baik Di Sekolah

Menjadi Teladan Yang Baik Di Sekolah

Oleh : Esti Lugondang

 

Remaja adalah masa peralihan dari anak ke dewasa. Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Karena berada pada masa peralihan, maka dia dibilang dewasa juga belum, mau dibilang anak-anak juga sudah tidak lagi. Masa ini juga disebut sebagai masa pencarian jati diri. Usia remaja merupakan fase krisis dalam perkembangan anak, karena mereka cenderung labil sehingga mudah terpengaruh oleh berbagai hal. Rasa ingin tahu yang tinggi menyebabkan mereka beradaptasi dengan berbagai kondisi tanpa melakukan penyaringan atau filtrasi terlebih dahulu. Apabila remaja berada dalam lingkungan yang menjalankan norma yang baik, maka remaja akan beradaptasi dengan norma baik, sebaliknya bila remaja berada pada lingkungan yang menerapkan norma kurang baik, maka remaja akan beradaptasi dengan norma yang kurang baik pula.

Secara umum, remaja dibagi dalam tiga fase batasan umur, yaitu: (1) Fase remaja awal dalam rentang usia dari 12 – 15 tahun, (2)  fase remaja tengah (madya) dalam rentang usia 15 – 18 tahun (3),  fase remaja akhir dalam rentang usia dari 18 – 21 tahun.

Kali ini fokus saya pada fase remaja tengah (madya) dalam renang usia 15 – 18 tahun. Fokus ini dipilih karena secara kebetulan saat ini saya berprofesi sebagai pengajar pada sebuah Sekolah Menengah Atas yang berarti siswanya berada pada kisaran usia antara 16-18 tahun

Dalam perkembangan kepribadian manusia semenjak dilahirkan hingga dewasa dan meninggal, manusia tidak pernah lepas dari suatu proses yang disebut sosialisasi. Sosialisasi adalah proses pengenalan, proses belajar atau bisa juga diartikan sebagai proses penanaman nilai, norma, kebiasaan, dan tata cara hidup dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Pada prosesnya, sosialisasi ini dapat berlangsung melalui beberapa media atau agen sosialisasi, yaitu keluarga, teman sebaya, sekolah, lingkungan masyarakat dan media massa.

Keluarga dikenal sebagai agen sosialisasi primer. Disebut sebagai agen ssialisasi primer karena pada agen inilah dasar kepribadian manusia dibentuk. Pada agen keluarga manusia akan belajar tentang konsep diri, norma agama, norma kedisiplinan, nilai saling menghargai, norma kesopanan, norma kesusilaan, kedisiplinan, kemandirian, kerjasama, toleransi, nilai kebersihan, nilai gotong-royong, dll. Dilanjutkan dengan agen teman sebaya. Setelah manusia (anak) dapat berjalan, berbicara, dan bepergian, ia akan mulai berinteraksi dengan teman sebayanya yang berasal dari keluarga lain.

Mereka akan belajar tentang konsep saling menghargai, saling menghormati, bekerjasama, kompetisi /persaingan, konsep menang kalah, keadilan, kebenaran, kedisiplinan, kejujuran, dst. Kemudian manusia akan masuk pada agen sekolah. Pada agen ini, manusia tidak hany akan belajar tentang “calistung” atau membaca, menulis, dan berhitung. Manusia akan belajar tentang aturan/norma kedisiplinan, tanggung jawab, kerjasama, kemandirian, saling menghormati, saling menghargai, norma dan nilai keagamaan, prestasi, universalisme, kejujuran, kebersihan, kerapian, kepemipinan, berorganisasi, dst.

Dalam kehidupan manusia, kita tidak pernah lepas dengan yang namanya tokoh pemimpin, yang selanjutnya akan dijadikan sebagai model /patron dalam berperilaku. Semua yang dilakukan oleh tokoh pemimpin tersebut akan dijadikan sebagai kebenaran perilaku bagi masyarakat lainnya (pengikutnya). Oleh karenanya, penting bagi setiap pemimpin agar bisa memberikan keteladanan dalam setiap perilakunya.

Dalam kehidupan beragama, patron umat adalah Rosul beserta para ulama. Dalam keluarga, patronnya adalah kepala keluarga dan orang dewasa lain dalam keluarga tersebut. Dalam masyarakat, patronnya adalah para tokoh masyarakat. Bagi bawahan, patronnya adalah atasannya. Pada lingkungan sekolah, patron para siswa adalah bapak dan ibu gurunya.

“Guru” kata tersebut sering kita dengar. Dalam falsafah Jawa, Kata Guru berasal dari 2 kata yaitu “digugu” dan “ditiru”. “Digugu” artinya kata-kata guru akan didengar. Oleh karenanya, sangat penting bahwa para guru untuk bisa bertutur kata dengan baik, bertutur kata dengan santun, bertutur kata yang benar, bertutur kata dengan bijak. Kemudian kata “ditiru” artinya perilaku guru akan diikuti oleh siswa. Sehingga penting pula bagi guru untuk berperilaku yang baik agar bisa menjadi contoh atau suri tauladan yang baik bagi siswa.

Terkait dengan profesi saya sebagai guru, maka saya tidak hanya mempunyai tanggungjawab untuk mengajar, akan tetapi saya juga memiliki tanggungjawab untuk mendidik siswa-siswa saya dan menjadi contoh atau teladan yang baik bagi mereka mengenai banyak hal, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, kebersihan, kerapian, kerohanian, dst. Terlebih siswa saya yang berada pada fase remaja madya dengan usia antara 16 – 18 tahun yang memasuki masa rentan terhadap berbagai pengaruh luar baik yang positif maupun negatif. Maka saya dan guru di sekolah memiliki peran penting untuk menciptakan iklim sekolah yang baik bagi siswa pada fase tersebut.

Guru perlu untuk memberikan arahan, bimbingan, serta pengawasan terhadap perilaku siswa. Guru sebagai agen sosialisasi (pembentukan kepribadian) siswa di sekolah tidak bisa bekerja sendiri. Guru perlu bekerjasama dan menjalin interaksi yang baik dengan agen pembentukan kepribadian yang lain, yaitu keluarga, teman sebaya, dan masyarakat di mana siswa tersebut berada.

Sangatta Utara, 31 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Arsip
Kategori

Visi SMANSeL: "Terwujudnya Insan Yang Cerdas, Religius dan Berbudaya"